John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial

Karyawan Anda adalah bisnis Anda. Gunakan empat prinsip berikut untuk untuk membuat mereka bertahan di perusahaan Anda.

Dale Carnegie Training - Talent Retention

Di tahun 1997 saya memindahkan kantor saya dari San Diego ke Atlanta. Saya sadar perpindahan ini berarti saya harus berpisah dengan beberapa rekan dan partner kerja yang luar biasa di tim saya. Saya bertanya-tanya, berapa banyak rekan yang ingin tetap tinggal di kota yang mereka cintai, dan berapa banyak yang bersedia pindah tempat tinggal dan tetap kerja di kantor kami?

Anda bisa bayangkan betapa bahagianya saya ketika lebih dari 60 orang memutuskan untuk ikut pindah ke kantor yang baru. Saya tahu persis pentingnya mempekerjakan orang yang tepat. Tetapi, saat itu saya menyadari betapa spesialnya rekan-rekan saya ini, betapa mereka begitu berkomitmen terhadap visi kami, dan betapa beruntungnya saya mereka tetap mau mengikuti meskipun situasinya tidak nyaman.

Setiap hari saya bersyukur atas orang-orang yang bekerja bersama saya, beberapa bahkan sudah berpuluh-puluh tahun bersama. Sebagai seorang pemimpin, tantangan untuk membentuk tim yang ideal merupakan tugas paling penting yang akan Anda hadapi. Kemampuan Anda untuk menemukan, mengembangkan, dan mempertahankan orang-orang terbaik pada akhirnya menjadi faktor penentu kesuksesan Anda.

Saya selalu mencari para pemenang. Saya merasa sangat bersemangat setiap kali memperkenalkan karyawan baru yang potensial kepada tim, tetapi saya juga selalu bersiap-siap apabila suatu ketika mereka harus pergi. Ini alasannya: Saya ingin bekerja dengan orang yang juga mau bekerja bersama saya. Saya beruntung banyak orang tetap memutuskan untuk tetap bekerja untuk saya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana Anda menciptakan lingkungan yang membuat orang-orang potensial tersebut mau tetap mengikuti Anda? Bagaimana Anda menjaga agar mereka tidak ditarik oleh kompetitor atau peluang kerja di tempat lain? Kunci mempertahankan orang-orang potensial adalah dengan menciptakan budaya yang membuat orang betah dan tidak ingin pergi. Ini yang perlu Anda lakukan:

1. Kenali tim Anda.
Kebahagiaan terbesar dalam hidup saya berasal dari tiga hal: makanan, sahabat, dan percakapan yang luar biasa. Beruntungnya, orang-orang yang bekerja dengan saya juga merupakan sahabat terdekat saya. Hasilnya, antara bekerja dan bermain sudah tidak ada bedanya. Ini penting karena relasi yang bagus memberi dampak berbeda. Orang tidak meninggalkan perusahaan; mereka meninggalkan orang di dalamnya.
Mereka juga mau bertahan untuk orang lain. Dalam jangka panjang, waktu yang Anda investasikan dalam membangun hubungan personal dengan tim Anda akan terbayar pada akhirnya.

2. Coach tim Anda mencapai kinerja yang lebih baik.
Karyawan terbaik Anda mungkin sama persis seperti Anda – selalu berusaha menjadi lebih baik. Jangan hanya menjadi boss mereka. Jadilah coach personal bagi mereka. Beri dorongan agar mereka bisa maju dengan cepat. Saya mempelajari ini dari pelatih basket legendaris UCLA, John Wooden. Seorang mentor yang mengubah pendekatan leadership saya. Ia mengatakan bahwa Ia datang setiap hari ke tempat latihan dengan satu pertanyaan: “Bagaimana cara membuat tim saya lebih baik?” Pemikiran yang fokus pada pengembangan ini mengantarkan dia mencapai rekor kesuksesan (memenangkan 10 kejuaraan NCAA) yang bukan hanya jarang dilakukan, tetapi juga sangat sulit ditiru.

Perhatikan juga filosofi D. Michael Abrashoff, mantan kapten kapal USS Benfold. Abrashoff mulai memimpin kapal ini – kapal yang orang-orangnya sudah demotivasi – dengan mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap kru kapal: “Ini kapal Anda – menurut Anda, bagaimana cara memperbaikinya?”
“Setiap pemimpin perlu telinga yang lebar dan tidak memberikan toleransi untuk kesalahan yang sama,” kata Abrashoff dalam bukunya, It’s Your Ship. Ketika Anda menghargai setiap orang tanpa melihat jabatan mereka, Anda akan menerima jauh lebih banyak masukan di setiap tingkatan organisasi. Dan ketika setiap anggota tim tahu suara mereka didengar, mereka akan lebih menikmati pekerjaan.

3. Prioritaskan untuk bersenang-senang.
Di sebuah pasar ikan di Seattle, Anda bisa melihat para penjual ikan melemparkan ikan salmon. Mereka bahkan mengajak para pelanggan untuk ikut bermain ikan. Pada umumnya pasar bukanlah tempat bersantai atau bersenang-senang. Namun, “aspek fun” jelas-jelas menjadi bagian penting dari pasar tersebut. Bagi para penjual ikan ini tidak ada bedanya antara bekerja dan bermain. Hasilnya, baik penjual maupun pelanggan pun sama-sama senang.

Suasana seperti ini lah yang terus saya ciptakan di perusahaan kami. Saya suka bersenang-senang. Saya menikmati saat bercanda bersama yang lain. Menurut pengamatan saya, dalam dunia bisnis, banyak pemimpin yang enggan tampil santai saat bersama tim mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa ini akan membuat mereka kehilangan wibawa.
Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Malahan, saya terus menerus mencari cara supaya kami bisa bersenang-senang bersama. Justru ini yang membuat kami benar-benar bekerja sama dengan baik.

4. Fokus pada nilai.
Orang bisa keluar dari sebuah pekerjaan, tetapi akan sangat sulit bagi mereka meninggalkan sesuatu yang mereka suka. Setiap orang ingin memastikan bahwa pekerjaan mereka memiliki arti penting untuk tim. Oleh karena itu, ketika membentuk sebuah tim, saya berusaha memahami nilai dari masing-masing orang – tidak hanya potensi dan keterampilan mereka. Jika Anda membentuk sebuah tim berdasarkan kesamaan prinsip, akan jauh lebih mudah menjaga setiap orang tetap terikat dan bergerak sejalan.

Ini juga yang dilakukan CEO Zappos, Tony Hsieh. Ia menjadikan “kebahagiaan” sebagai nilai paling penting di perusahaannya. Menurut Tony, “Bahagia itu ketika kita mampu menggabungkan kesenangan, hasrat, dan tujuan dalam kehidupan pribadi seseorang.”

Saat ini banyak perusahaan bersaing ketat mendapatkan karyawan berpotensi tinggi. Tetapi Hsieh telah membangun budaya yang fokus pada kesamaan nilai dan mempertahankan lingkungan kerja yang nyaman. Ini justru membuat Zappos kebanjiran pelamar yang potensial, padahal hanya ada sedikit lowongan di sana. Problem yang menyenangkan bukan? Di saat Anda berusaha menjadikan perusahaan Anda sasaran idaman para pelamar dan membuat mereka betah setelah bergabung, ingatlah keempat prinsip ini. Saya berharap Anda tidak perlu pindah kantor seperti yang saya alami, tetapi saya harap tim Anda memiliki loyalitas yang sama karena peluang yang Anda tawarkan, penghargaan yang Anda tunjukkan, dan saat-saat menyenangkan yang Anda ciptakan.

Source: http://www.success.com

More on employee retention strategy…

Dale Carnegie Training Bandung – Leadership, Communication, Presentation & Sales Training in Bandung

Advertisements

74 thoughts on “John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial

  1. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Jenny Up The Hill

  2. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Motherhood Uncensored

  3. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Sarah and The Goon Squad

  4. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Queen of Spain

  5. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Liz Strauss

  6. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Young and Broke

  7. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | The Disney Traveler

  8. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Shai Coggins

  9. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Word Scrawl

  10. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Jilbean

  11. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Small Dead Animals

  12. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Shai Coggins

  13. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Peety Passion

  14. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Between My Sheets

  15. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Reality On Bravo

  16. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Pastor Laura’s Weblog

  17. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | The Disney Traveler

  18. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Irreverent Freelancer

  19. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | A Piece of Peace

  20. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Irreverent Freelancer

  21. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Randa Clay Design

  22. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Cranky Fitness

  23. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Girls Gone Sports

  24. Pingback: John C Maxwell: Bagaimana Mempertahankan Karyawan Potensial | | Sondrak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s